KACU PRAMUKA UNTUK KADO
ULTAH NANA
Pagi
telah datang menyapa bumi, mentari mengintip malu dibalik bukit hijau, sinarnya
menembus kuat tirai penghalang jendela kamarku, menampar kejam tubuhku yang
masih meringkuk didalam selimut bagai seekor udang yang digoreng.
“
Kang, bangun katanya mau latihan pramuka?, udah jam 07.30 noh !” seru adikku.
“
Eeemmmhhhhzzzz apa sih pagi – pagi udah berisik banget !”. kataku sambil
menggeliat seperti kucing yang baru bangun tidur –bayangin aja seperti itu- dan
tidur lagi.
“ Kakang, ayo bangun udah siang masih molor aja
kayak kebo”. Kata adikku sambil menarik – narik kaki dan selimutku.
“
Masih ngantuk nih”.
“
Kakang, bangun! Kalo gak, aku sebor yah!”.
“
Eeemmmzzzzhhh”. Aku menggeliat lagi.
“ Oh, gitu yah! OK!”. Santi lari ke kamar mandi
dan kembali lagi membawa air satu ember kecil dan menyeborku tanpa ampun.
BBYYUUUURRR.....!!!!!
“ Ayo bangun kebo!”. Tanpa prikemanusiaan tega mengguyur aku yang lagi
meringkuk.
“
Haubbllehbhb beuh beuh ohok – ohok. Jangkrik kamu san. Asem doang”.
“
Makanya bangun, udah jam 8 kurang 15 tuh, katanya mau ke UPTD Pendidikan.
“
HAAAAA......!!! jam 8 kurang! Santi kenapa gak ngebangunin? Kan tadi malem udah
pesen suruh ngebangunin geh!”. Seruku.
“
dari tadi juga udah dibanguinin, makanya kalo tidur itu jangan kaya kebo,
yaudah Santi sebor deh biar bangun. Yaudah gih mandi biar gak telat”.
Aku
langsung ngiprit ke kamar mandi yang berada di samping dapur. Mungkin karena
kaget dan masih ngantuk disertai rasa kantuk yang belum lenyap jadi lupa mana
pintu dan mana tembok. BLLEEDUUUGG..!!! sontak mata jadi berkunang – kunang dan
kepala benjol
“
Waduh, jangkrik doang. Asem, benjol deh. Perasaan pintunya disini. Santi,
pintunya siapa yang mindahin?”. Teriakku
“
Pintu yang mana kang?”.
“
Pintu kamar mandi!”.
BYYUUURRRR..!!!
Santi malah menyeborku lagi dari belakang dengan air sisa rendaman kain pel
yang baunya hoeekk kaya eek meong.
“ Udah sadar belum
kang?”.
“ Jangkrik doang !
Kenapa disebor lagi?”.
“ Ya takutnya belum
sadar kang. Emang tadi kakang kenapa?”.
“ Kejedot tembok
sialan tuh, gak tau ada orang buru – buru apa!”. Sambil memegangi kepala yang
masih terasa pening
“
ha...ha..ha..ha.ha.ha.ha.haaa... kang.. kang kalo mau nguji ilmu jangan sama
tembok! Kasian tuh temboknya, sama baja aja tuh yang di pabrik KS. Mentang –
mentang kelahiran Banten yah !”. kata adikku sambil tertawa. Memang Banten
adalah pusat ilmu kebatinan, ilmu debus, tempat para Alim Ulama menuntut ilmu,
santet, silat dan lain sebagainya. Dan ada yang bilang kalau kita kelahiran
Banten akan memiliki ilmu tersebut. Tapi Aku mah boro – boro pengen ilmu kayak
gitu, ngeliatnya aja juga merinding apalagi memainkannya.
“ Jangkrik doang”.
Aku pun langsung
masuk ke kamar mandi, kusiram tubuhku dengan air suam – suam kuku, sejuk dan
fresh.
Namaku Amir Afandi,
teman – temanku biasa memanggilku Amir atau Temon. Usiaku sudah 18 tahun dan
masih duduk di bangku putih abu – abu kelas 12 disalah satu sekolah swasta di
Kota Cilegon. Sejak Sekolah Dasar, Aku sudah hobi dengan Pramuka dan seakan
menjadi keluarga kedua ku setelah ayah dan ibuku tiada. Aku suka pramuka karena
rasa kekeluargaan, kekompakan antar sesama teman sangat kental sekali. Di
pramuka Aku diajarkan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang bijak dalam
segala hal kepemimpinan. Di pramuka aku diajarkan untuk tidak kenal kata
menyerah dan putus asa serta mengunakan waktu luang dengan sebaik mungkin.
Hari ini ada latihan
Pramuka rutin setiap minggu di Aula UPTD Pendidikan, dan aku biasanya dijemput
oleh oleh sahabat terbaikku, namanya Nana Anisa. Ia sudah aku anggap sebagai
adikku sendiri. Kemana saya pergi berkegiatan pasti dia saya ajak. Dan bahkan
ada yang menyangka kalau kita mempunyai hubungan pacaran.
Aku bergegas berganti
pakaian dengan seragam kebanggaanku yaitu seragam pramuka yang selalu ku
perlakukan dengan amat sangat baik. Secarik kain berwarna merah putih yang
kulipat mengikat dileher menggantung dengan gagah dipundak yang ku kaitkan
dengan sebuah cincin rotan. Setiap memakai seragam pramuka, entah mengapa hati
rasanya bangga dan terlihat gagah. Di depan rumahsudah terdengar suara klakson
motornya Nana.
“ Ya, tunggu bentar
Na!. Gimana San, sudah gagah belum?”.
“ Lumayan sih kang,
agak gantengan dikit”. Kata Santi sambil menjentikan ujung kukunya.
“ Asem doang”.
“ Udah ganteng kok
kakakku sayang, laur biasa gantengnya kalo dilihat dari monas”. Aksentuali ‘kalo dilihat dari monas’ sengaja dipelankan berharap aku tak
mendengarnya.
“ Wuh ngeledek aja. Udah ah kakang mau
berangkat dulu, kasian ka Nana udah nungguin. Assalamualaikum”.
“ Waalaikum salam,
hati – hati yah kang”.
“ Iyah”. Aku segera
keluar menghampiri Nana yang tengah menungguku.
“ Salam Pramuka! Hai
Na, udah lama yah nunggunya?”.
“ Salam! Gak kok kak,
Nana baru aja nyampe. Itu kepalanya kenapa kak?”.
“ Kejedot tembok tadi
pagi”.
“ hahahha.. kak.. kak
ada – ada aja, makanya kalo bangun itu jangan siang – siang”. Nana sudah tahu
kebiasaanku jika aku habis berkemah pasti bangunnya siang.
“ Udah yuk berangkat!”.
“ Kacu aku mana?”
kata Nana sambil menengadahkan telapak tangannya yang imut dan mungil disertai
mimik muka yang ngegemesin.
“ Oh iya, bentar yah
Na kakak ambilin”. Sambil ku cubit
pipinya yang tembem dan imut
“ Aww,, sakit kak. Kebiasaan deh”.
“ Habisnya ngegemisin”.
“ Udah cepetan sana, ambilin”.
“ iyah, bentar yah bawel”
“ Iyah, cepetan yah
kak udah siang nih”.
“ iyah”.
Memang selama latihan
Nana belum mempunyai kacu yang sesuai golongan penegak (18-21 tahun) bukan tak
mampu membeli tapi kondisi orang tuanya yang serba kekurangan. Aku kembali
masuk kedalam rumah untuk mengambilkan kacu buat Nana.
“
Kok masuk lagi? Kangen yah sama aku?” goda Santi
“ Bisa aja si Dora
ini yah, mau ngambil kacu, tau gak dimana?”.
“ Kacunya di atas
keranjang pakaian kang!”. Seru Santi
“ Iyah udah ketemu”.
“ Tumben cepet nyarinya.
Biasanya satu bulan baru ketemu”. Ledek Santi.
“ Wuh ngeledek aja
yah, awas nanti tak jitak”.
“ Makanya itu kamar
apa kandang kebo atau kapal pecah? Acak –acakan kaya gitu sampe – samp.. hemzz
hemb... segera aku tutup mulut Santi. Memang kebiasaan burukku adalah malas
beres – beres kalau habis kemah. Dua hari baru diberesin.
“ Hus jangan berisik,
malu ada kak Nana tuh!”
“ Kakak udah ketemu
belum kacunya?” seru Nana dari luar rumah.
“ Udah Na”.
“ Cepetan udah siang
nih!”.
Aku segera keluar
rumah meninggalkan Santi yang masih tertawa, dan langsung menyerahkan kacu ke
Nana. Kekecilan tapi tak apalah yang penting Nana bisa ikut berkegiatan.
“ Na, kakak janji
akan membelikanmu kacu yang sesuai dengan golongan penegak”.
“ Iyah kak, makasih
yah kak? Tapi kalo kakak gak bisa juga gak papa kok, Nana pake kacu yang ini
aja”.
“ Sama – sama Na, gak
kok Na, supaya kita bisa berkegiatan bersama!”.
Kupandangi ia dengan
diam tanpa kata, mukanya yang putih bersih diterpa sinar matahar. Wajahnya yang
oval , dibalut kerudung coklat memancarkan aura bening laksana telaga kautsar
yang memberi ketenangan batin dan jiwa. Dagunya yang lancip,hidungnya mancung,
‘gak kayak aku pesek, jujur deh’ dan bulu matanya yang lentik membuat pesona,
yang ia tebarkan mampu memikat kumbang jantan manapun yang melihatnya. Tingkah
laku serta gerak langkah yang dilakukannya menambah keanggunannya laksana putri
khayangan didalam dongeng. Aku bangga memiliki adik kedua sepertinya.
“ Eh malah bengong,
ayo berangkat!” ajak Nana membuyarkan lamunanku.
“ Ayo, let’s go!”.
Deru motor memecahkan suasana pagi itu.
Sesampainya ditempat,
ternyata acara sudah dimulai. Dan akhirnya kami diberi hukuman oleh kakak
pembina. Aku pun disuruh push-up 50 kali dan Nana dibri hukuman skot jump
sebanyak 40 kali. Karena Aku merasa bersalah dan menyadari ini kesalahanku,
maka aku mengajukan permintaan kepada kakak pembina supaya hukuman Nana
dikurangi 20. Kakak pembina akhirnya menerima permintaanku dengan syarat hukuman aku ditambah 20 kali, dan aku pun
menerima dengan lapang dada syarat tersebut demi menebus rasa bersalahku pada
Nana.
Setelah menjalani
hukuman dari kakak pembina, Aku melihat Nana yang wajahnya pias dan keringatnya
bercucuran membanjiri wajah manisnya. Aku menghampiri adikku ini sambil bertanya khawatir takut
terjai sesuatu pada dirinya.
“
Na, kamu tidak apa – apa?” tanyaku khawatir
“ Tidak apa –apa kak,
tenang aja!” jawabnya sambil tersenyum manis untuk meyakinkan bahwa dirinya
tidak apa – apa.
“ Jangan bohong Na.
Aku ini kakakmu, jadi aku tau dirimu!”. Aku masih khawatir akan keadaan Nana
yang kelihatan pucat pasi.
“ Nana gak papa kak”.
“ Kamu sakit atau
belum sarapan?”.
“ Udah kak, gak
papa”.
“ Kakak beliin nasi
yah?”.
“ Udah kak gak usah,
Nana gak papa”.
“ Tapi wajahmu itu
pucat sekali Na, sekarang kamu duduk aja yah gak usah ikut latiha dulu”.
“ Gak papa kak, Nana
kuat kok, kakak tenang aja gak usah khawatir”.
“ Beneran kuat?”.
“ Beneran kak”.
“ Ya sudah kalo Nana
kuat, tapi kalo cape istirahat aja”.
“ Iyah kak”.
Latihan baris –
berbaris pun dimulai dan pada saat Danton memulai aba – abanya dengan suara
berat dan lantang memerintahkan pasukannya untuk mengikuti aba – abanya.
“ Jalan
ditempat...... gerak!!!” perintah Danpas
Dan aku pun melirik
ke arah Nana yang pucat pasi dengan keringat membanjiri tubuhnya dan gerakannya
mulai tidak stabil seperti kehilangan keseimbangan. Dan benar saja beberapa
saat kemudian ia terjatuh tak sadarkan diri, sontak aku berlari menghampirinya.
Sambil menepuk – menepuk pipi Nana dan mencoba menyadarkan. Begitu juga dengan
teman – teman yang lain, langsung saja Nana kami pindahkan ke ruang UKS.
“ Na bangun, Na sadar
Na” kataku panik.
“ Ka coba pake minyak
kayu putih nih ka” kata ka Diah.
“ Iyah kak”
Akhirnya Nana sadar dari
pingsannya dan langsung aku beri minum teh hangat yang telah dibuatkan oleh Kak
Diah. Setelah agak kuat kondisi Nana segera aku bawa pulang kerumahnya supaya
istirahat. Sempat dia menolak aku ajak pulang tapi aku memaksa ia pulang.
Sudah 3 hari Nana
dirawat dirumah sakit, karena kondisi tubuhnya yang kian hari kian menurun.
Tubuhnya yang dulu tegap sekarang terbaring lemah tak berdaya. Teman – teman
semuanya menengok dan mendoakan kesembuhan Nana. Dan semua merindukan canda
tawa, senyuman manis, serta gurauan yang tak pernah hilang selalu hadir jika
kita sedang latihan.
“ Na, gimana
keadaanmu adikku?” tanyaku sambil menoel hidungnya yang mungil dan menyerahkan
rangkaian bunga mawar putih kesukaannya pada suatu sore hari saat hujan
membasahi bumi yang menganga kekeringan dan hiasan setengah lingkaran dengan
tujuh warna menghiasi cakrawala sore
hari ini. Ah sungguh indahnya suasana sore ini. Cahaya mentari menerobos masuk
melalui celah jendela kamar Nana dirawat. Memantul pada meja disamping kasur yang dipenuhi oleh
beberapa rantang makanan, kantong – kantong obat, dan
beberapa rangakaian bunga segar dari teman – temannya yang baru datang
“ Udah sehat kok kak.
Kakak gimana kabarnya? Udah hapal belum sandi semaphore dan morsenya? Pasti
belum yah?” hahhahaha!!” kata Nana sambil tertawa. Ah sungguh bahagianya
mendengarmu. Meski guratan pucat yang terlukis diwajahmu yang menandakan sakit
tapi seolah semua itu hilang menguap bersama angin sore yang membelai lembut
menghantarkan camar kembali pada sarangnya
“ Enak aja, semaphore
mah udah hapal dong, tapi sandi morse mah belum, soalnya susah sih” kataku
sambil tersenyum semanis mungkin supaya membangkitkan semangat dia untuk sembuh
walaupun hati masih sedih melihatnya masih terbaring lemas diatas dipan putih
berselimut kain hijau.
“ Nana mah udah hapal
dong kak sandi morse mah, mau diajarin gak? Tapi kak Amir ajarin Nana sandi
semaphore juga yah!” pinta Nana.
“ Tapi kamunya sembuh
dulu dong, masa mau ngajarin disini. Apa kata dokter nantinya? Masa dikira ini
tempat kemah?” candaku
“ Hahahaha... kak
Amir mah bisa aja” jawab Nana sambil tertawa.
“ Besok kakak janji
akan membelikan kamu kacu”.
“ Yang bener kak?
Beneran mau membeliin Nana kacu kak?”
“ Beneran adikku
sayang, makanya kamu harus cepet sembuh, besok kakak kasih kacunya!” Nana
lansung girang bukan main. Kalau tidak aku pegang tangannya mungkin sudah
terjatuh akibat loncat – loncatan kegirangan. Wajah Nana langsung berbinar –
binar laksana disinari oleh lentera abadi dan bintang gemintang diwajahnya yang
imut nan manis.
“ Kakak janji?”.
“ Kakak janji!”.
“ Yes, berarti Nana
bisa ikut pramuka lagi dong?”.
“ Pastilah sayang, sekarang kamu istirahat yah
supaya cepat sembuh dan bisa pulang kerumah dan latihan bersama lagi”.
“ iyah kak, besok
pagi juga kayaknya Nana pulang kak, orang udah sehat geh masa mau lama – lama
disini, bosen kak pengen cepet – cepet pulang dan latihan pramuka bareng kak
Amir lagi dan temen – temen yang lainnya. Kak Usep, kak Diah, kak Linda, kak
Usdi. Aku kangen mereka kak.
“ Yaudah makanya
sekarang Nana istirahat. Biar besok bisa pulang”.
“ iyah kak, makasih
yah kak?”.
“ Iyah, sama – sama
de”.
Pelan – pelan aku
baringkan tubuhnya yang lemah pada kasur yang putih dan kuselimuti dengan kain
warna hijau dan perlahan matanya terpejam tidur. “ semoga engkau cepat sembuh
wahai adikku!” kataku dalam hati dan perlahan aku beranjak keluar ruangan dan
bertemu ibunya Nana yang tengah duduk bersandar bangku tunggu.
“ Nak Amir, makasih
yah atas semuanya, awalnya kita semua pasrah melihat kondisi Nana yang kian
hari kian turun, dan penyakit tifus nya sudah kronis sekali. Tapi begitu nak
Amir datang kami semua merasa dunia berputar kebelakang dan menemukan kembali
senyumannya dan semoga besok bisa pulang kerumah”.
“ Ibu, jangan ngomong
berlebihan seperti itu bu. Nana itu sudah Amir anggap seperti adik kedua Amir
bu, begitu juga dengan ibu sudah Amir anggap ibu sendiri, bapak, teh Ani
semuanya sudah Amir anggap keluarga amir sendiri. Jadi sudah menjadi kewajiban Amir
untuk menyemangati Nana untuk sembuh”.
“ sekali lagi terima
kasih yah Nak Amir” sambil memeluk tubuhku dan menangis di pelukanku. Ah
rasanya seperti di pelu ibu sendiri yang sudah 8 tahun lebih hilang dan tanpa
aku sadari air mataku pun menetes tak terbendung lagi.
“ Sama – sama ibu”
sambil ku lepaskan pelukan ibu. “ Sekarang ibu juga istirahat yah, supaya
jangan kelihatan sakit juga di depan Nana dan ibu tunjukan pada Nana bahwa ibu
juga kuat menghadapi semua ini yah bu?”.
“ iyah nak. Sekarang
Nak Amir mau kemana? Disini aja temenin ibu juga Nana yah?”.
“ Amir mau ke toko
Pramuka dulu bu, mau beli Kacu pramuka untuk Nana kerana Amir udah janji sama
Nana bu”.
“ Oh yaudah, hati –
hati yah Nak Amir”.
“ Iyah bu, Amir pamit
yah bu, kalo ada kabar apa –apa tentang Nana kabari Amir yah bu?
Assalamualaikum”.
“ Iya Nak. Waalaikum
salam”.
Pagi hari ini cuaca
tak secerah seperti biasanya. Angin barat bertiup pelan mengoyangkan batang –
batang bambu yang menderit mengalunkan lagu kesedihan. Langit menurunkan air
matanya dan pelangi menampakkan cahaya pudarnya yang bersembunyi dibalik bukit, pohon – pohon menunduk. Sebuah
gundukan tanah merah kini membukit dan didalam gundukan tanah merah tertidur
putri jelita, sebuah batu nisan yang tertancap abadi terukir sebuah nama NANA
ANISA yang telah berpulang ke pangkuan sang pencipta. Ribuan air mata
mengiringi kepergian gadis cantik ini dan awan pun memayungi kepergiannya
menuju ketempat peristirahatan yang terakhirnya.
Saat kejadian ini
terjadi aku tengah tertidur sambil bermimpi duduk bersama Nana ditaman bunga
sambil memberikan kacu idamannya. Aku melihat wajahnya sangat senang dan
gembira sekali serta melompat – lompat kegirangan sama seperti waktu ia di
rumah sakit. Aku terbangun saat Santi membangunkanku dan mengatakan berita
tersebut. Sontak aku langsung terkejut mendengar berita ini dan merasa tak
percaya akan apa yang aku dengar. Aku langsung berlari menuju ke pemakaman dan
tak lupa aku membawa sebuah kotak kecil bersimpul anak berkemah. Ku genggam
erat kotak itu sambil berlari kencang, berkali – kali kaki tersandung batu tapi
tak ku rasa, pikiran dan hatiku cuma satu tujuan yaitu pemakaman.
Sesampai ditempat
pemakaman, para pengantar sudah pulang. Tinggal Ibu, yang berdiri disamping Teh
Ani sambil menahan air mata luka, Kak Diah, Kak Usdi, Kak Linda, dan Kak Usep
pembina pramuka kami. Semua diam seribu bahasa dan ketika aku datang semuanya
saling pandang tanpa berkata apapun. Aku langsung memeluk tanah merah yang
menimbun Nana dengan tangis yang tertahan seakan tak mampu bersuara dan
berteriak.
“ Na, kenapa kamu
tega ninggalin kakak?” kataku perlahan. “ Na, ini kakak bawakan kacu untukmu,
hadiah ulang tahunmu. Ayo Na, bangun. Pakai kacunya, kita pramuka bersama lagi
dan sesuai keinginanmu kita berkemah bersama. Na bangun Na,
BAANGGUUUUUUUNNNNNN!!!!!”. Aku berteriak sekencang – kencangnya sambil meremas
tanah merah. Kini tubuhku bercampur tanah. Aku ditarik oleh Kak Untuk sadar dan
sabar, aku memeberontak sekuat – kuatnya dan kembali memeluk gundukan tanah
merah dan ditarik kembali oleh Kak Usep dan Kak Usdi
“ Mir, sabar Mir, sudah
ikhlaskan saja” kata Kak Usdi
“ Na, Nana....
Nana....” aku terus saja memanggil namanya
PLAAKK.. sebuah
tamparan dari Kak Usdi mendarat dipipi kananku. “ Mir, Sadar Mir” kata Kak
Usdi. Dan aku langsung berbalik arah memandang Kak Usdi dengan geram dan mau
membalas tapi keburu di cegat oleh ibu.
“ Kenapa kalian semua
tak memberitahu ku akan semua ini? KENAPA?” Aku kembali berteriak sekencang –
kencangnya.
“ Sudahlah Mir,
ikhlaskan saja” Kata Teh Ani
“ Kenapa Teh Ani tak
memberitahu Amir kalo Nana udah pergi teh? Kenapa Teh Ani tega sama Amir?
Kenapa teh?”
“ Maafkan Teteh Mir,
Teteh juga baru tadi pagi dikabarinya oleh ibu” kata Teh Ani.
Akhirnya Aku bisa
menguasai diri dan menyadari akan semua ini, tangisku kini sudah reda dan Aku
buka kotak kado lalu kukeluarkan isinya dan Aku pakaikan kacu yang menjadi
hadiahnya pada batu nisan dan seikat bunga mawar putih bersandar.
“ Mir, ini ada surat
titipan dari Nana untukmu, tadi malam Nana ngasih ini pada ibu dan menyuruh ibu untuk
menyampaikannya padamu” kata ibu sambil menyerahkan surat itu padaku. Dengan
cepat aku sambar dan langsung aku baca
“ Ka Amir jelek, terima kasih yah atas semuanya, Nana seneng banget
punya kakak seperti Kak Amir, Ka Amir mau melakukan apa saja demi Nana, tapi
Nana selalu saja nyusahin kakak. Kakak kita kemah yuk dibawah Gunung Semeru
berdua, pasti seneng banget. Melihat indahnya pemandangan dari
puncak gunung, melihat bintang – bintang yang bertaburan, merasakan udara
sejuk, dan tidur dibawah tenda mungil. Melihat kupu – kupu cantik yang hinggap
di antara bunga – bunga yang indah disertai dengan kicauan merdu suara burung
yang bertengger diatas pohon pinus. Kak. Nana punya satu permintaanuntuk kakak.
Saat Nana tak lagi melihat dunia ini, saat nafas terhenti dan tubuh terbujur
kaku. Jangan nangis yah kak. Nana gak mau melihat Kakak menangis. Nana mau
Kakak menjadi orang yang kuat. Senyum dong. Jangan cemberut mulu, nanti itu
hidung nambah ambles. Hehehheee.”
Adikmu..
Nana
